Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

Adab Minta Tolong

Meminta bantuan/pertolongan kepada orang lain merupakan suatu hal yang lumrah, bahkan sangat lumrah bagi kita manusia yang notabene selain sebagai makhluk pribadi juga berperan sebagai makhluk sosial–yang tidak akan pernah mampu bertahan hidup tanpa kehadiran manusia lainnya. Tetapi yang menjadikannya tidak lumrah lagi dan malah terasa aneh, ketika meminta tolong itu disanding-sandingkan dan ‘dibumbui’ dengan paksaan, bahkan yang lebih ekstrimnya lagi disertai dengan ancaman pula, baik sedikit maupun banyak (kadarnya) atau dengan cara yang kasar maupun halussama saja, yang hakikinya paksaan tetap saja paksaan, yang hakikinya ancaman tetap saja ancaman, tidak akan berubah sedikitpun.

Patutnya, jikalau orang yang kita mintai bantuan tersebut menyatakan ketidaksanggupannya, yang mungkin disertai dengan berbagai alasan dan penjelasan yang boleh jadi dapat  kita terima, maupun tidak, atau bahkan jika dia menolak secara ‘mentah’ sekalipun–sah-sah saja dia lakukan, karena itu jelas adalah haknya memutuskan untuk kemudian menolong atau tidak. Karena meminta tolong itu layaknya sebagai salah satu ikhtiar (usaha) kita dalam menggapai suatu tujuan. Hasil akhirnya, permintaan kita di-acc atau tidakbukan lagi menjadi urusan kita, karena sudah berada diluar kemampuan kita. Dan, yang lebih bukan menjadi hak kita lagi, ketika permintaan kita tidak diterima dengan baik adalah dengan menanggapinya dengan marah-marah, mengancam, dendam kesumat tujuh turunan, lantas tidak lagi bertegur sapa dengannya beberapa tahun kedepan :D jelas itu perbuatan yang luculuucu sekali.. -_-

Timbul rasa kecewa mungkin boleh, tetapi kecewa yang disertai dengan dendam jelas itu bukan duo yang pas untuk di-featuring-kan :D, karena antara kecewa dengan dendam kadang berdampingan sangat erat, sehingga kita tidak mampu lagi membedakan mana yang kecewa mana yang dendam, walaupun keduanya memiliki perbedaan yang kontras sebenarnya. Di dalam pandangan Islam, kecewa boleh jadi diperbolehkan melakukannya, tetapi dendam jelas tidak boleh alias dilarang! Karena sesuatu yang boleh apabila dicampur-adukkan dengan yang tidak boleh maka konklusi-nya adalah tidak boleh. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 42 yang artinya:

“Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil...”.

Maka dapat diartikan ayat tsb berisi tentang larangan kepada kita dalam hal mencampur-adukkan yang haq (benar) dengan yang bathil (salah) karena akan mengaburkan batas antara keduanya sehingga kemudian menjadikannya bathil (salah).

Ada satu quote tentang adab meminta tolong yang sempat saya baca dari salah satu halaman blog seseorang yang perlu (bahkan mungkin wajib) kita pahami bersama dan renungkan dalam-dalam untuk dijadikan pembelajaran yang baru dan berharga bagi kita semua, yang bunyinya seperti ini:
Saudara, kalaupun kamu terpaksa meminta tolong kepada manusia, maka janganlah meminta dengan memaksa. Jika diberi maka bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasih kepada orang yang memberi. Tapi jika tak diberi maka tak perlu marah ataupun kecewa. Karena hanya kepada Allah saja kamu boleh bergantung dan berharap.

Terakhir, satu kalimat nasihat dari saya: "Jika kamu bisa melakukannya sendiri, kenapa mesti minta bantuan orang lain?" :)

Wassalam.
Baca SelengkapnyaAdab Minta Tolong

Sabtu, 13 Juli 2013

Setelah Dimiliki, Tak Lagi Indah


Yang tinggal di gunung, merindukan pantai.
Yang tinggal di pantai, merindukan gunung. 

Di musim kemarau, merindukan musim hujan.
Di musim hujan, merindukan musim kemarau.

Yang berambut hitam, mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang, mengagumi yang hitam. 

Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah. 

Waktu tenang, mencari keramaian.
Waktu ramai, mencari ketenangan. 

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tidak lagi indah... 

Lalu, kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki? 

SYUKURI apa yang ada, karena hidup adalah anugreah bagi jiwa-jiwa yang ikhlas.
Baca SelengkapnyaSetelah Dimiliki, Tak Lagi Indah

Sabtu, 27 April 2013

Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.”
Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?” Dan aku menjawab, “Burung gagak.” Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. “Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti kepada kedua orangtua. 
Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi diamalkan???Ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah.

Author : PercikanIman.org
Shared : Kisah Penuh Hikmah
Baca SelengkapnyaAntara Ayah, Anak dan Burung Gagak

Rabu, 17 April 2013

Jangan Main Judi !! Sob :)


Begitu banyak ragam permainan judi era sekarang ini, mulai dari permaian judi yang klasik sampai modern yang dapat menggoyahkan manusia-manusia yang lemah imannya untuk melakukan perbuatan haram tersebut. Seperti game perjudian online yang lagi marak-maraknya di kalangan teman-teman sebaya saya saat ini seperti Sbobet, M88, Zynga Poker, dsb. Apapun itu nama dan bentuk permainan judi yang namanya judi ya tetap judi dan semuanya itu haram atau dilarang untuk melakukannya.

Judi memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, karena orang awam dan anak kecil sekalipun sekiranya sudah diajarkan oleh orang tua mereka tentang apa itu judi dan larangan untuk mengerjakannya. Namun, yang jadi permasalahannya adalah orang-orang kadang mengabaikan kebenaran yang ada memandang enteng tentang larangan berjudi, bahaya dan dampak buruknya terhadap kehidupan manusia. Padahal agama manapun saya rasa tidak ada yang memperbolehkan kegiatan haram ini dilakukan karena pada kenyataannya lebih banyak mudharat (kerugian) yang didapatkan setelah bermain judi daripada keuntungannya sehingga perbuatan atau kegiatan judi tersebut digolongkan kepada perbuatan yang haram atau dilarang oleh agama. 

Dalam pandangan Islam, Allah SWT secara terang-terangan melarang yang namanya perjudian yang tercantum dalam Al-Qur'an Surah Al-Maidah Ayat 90 yang artinya :
"Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."


Kemudian dalam Agama Nasrani juga melarang yang namanya perjudian, yang mana dijelaskan dalam Alkitab : yang pertama Alkitab memperingatkan umatnya untuk menjauhkan diri dari cinta uang (Timotius 6:10; Ibrani 13:5) dan yang kedua Alkitab juga menasehati umatnya untuk menjauhkan diri dari usaha mendapat kekayaan dengan cepat (Amsal 13:11; 23:5; Pengkhotbah 5:10). Walaupun Alkitab tidak secara khusus mencela dan melarang perjudian, namun sudah jelas sekali bahwa judi berfokus pada cinta uang dan menggoda orang dengan janji untuk mendapatkan kekayaan secara cepat dan mudah. Dengan demikian judi juga merupakan suatu perbuatan yang harus dijauhi dan dilarang dalam agama Nasrani. (sumber : http://www.gotquestions.org/Indonesia/dosa-judi.html)

Diantaranya kerugian yang didapatkan setelah bermain judi yaitu adanya perasaan gelisah, ketidakpuasan dan kecanduan yang tiada berujung sehingga apabila sudah menang beberapa kali tetap tidak akan merasa puas sehingga kegiatan judi itu akan terus berlanjut, jadi ada kemungkinan untuk kalah sampai uang modal judinya benar-benar habis bahkan bisa menjadi devisit (hutang). Sedangkan keuntungannya hanya dirasakan sesaat dikala ia menang judi, namun tetap saja kemenangan itu tidak akan selalu berpihak kepadanya, jadi ya asasnya untung-untungan dan tidak pasti (tidak selalu menghasilkan uang secara kontinyu dari kegiatan judi tersebut).

Kemudian, bagaimana jika ada pertanyaan mengenai uang haram (hasil judi) yang dibayarkan untuk melunasi hutang kepada orang lain, apakah orang yang menerima uang dari hasil judi tersebut menerimanya sebagai uang haram juga?
Jawabannya tidak, uang tersebut tetap halal dipakai oleh sipenerima hutang karena sipenerima hutang tidak terkait dengan kegiatan perjudian tersebut | hubungannya dengan si penjudi tersebut adalah hubungan 'hutang-piutang' dimana si penghutang wajib membayar/melunasi hutang (uang) yang dia pinjam sebelumnya tidak peduli darimana uang tersebut ia dapatkan yang pasti kewajibannya ialah melunasi hutangnya tersebut, karena yang namanya hutang tetaplah hutang. Seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-An'am, ayat 164 yang artinya :

“Dan tiadalah (kejahatan) yang diusahakan oleh sesuatu jiwa (seorang) melainkan dialah yang menanggung dosanya; dan seseorang yang boleh memikul tidak akan memikul dosa orang lain”.

Adapun menurut tafsiran saya, maksud dan kandungan dari potongan ayat tersebut ialah seseorang hanya akan memikul dosa dan kesalahan yang telah ia perbuat sendiri dan dia tidak akan pernah memikul dan bertanggung jawab atas dosa dan kesalahan orang lain meskipun ia sanggup memikulnya.

Nah, kalo masih bingung dengan penjelasan saya mengenai hukum mengambil pemberian dari yang haram tadi untuk lebih jelasnya saudara dapat membacanya disini : http://drmaza.com/himpunan_fatwa/?p=68

Oke sob, sekian dulu ya coretan dari si uda nya :D. Semoga bermanfaat bagi sob-sob yang membaca blog sederhana saya ini. Ingat sob, "orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan, tetapi ialah orang yang pernah berbuat kesalahan namun berusaha untuk memperbaikinya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi kedepannya." 
Baca SelengkapnyaJangan Main Judi !! Sob :)